Marquee

SELAMAT DATANG DI BLOG INI, SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA, TERIMA KASIH

Jumat, 26 September 2014

Penggunaan Media Kontras Pada Modalitas Multislice Ct Scan

Penggunaan Media Kontras Pada Modalitas 
Multislice Ct Scan
Pemeriksaan CT Scan dengan menggunakan media kontras biasa dilakukan pada kasus massa atau tumor, tapi sering juga dilakukan bila ada indikasi radang terutama di kepala.
Berikut adalah jenis pemeriksaan CT Scan yang menggunakan media kontras dan cara pemasukannya :

image

Volume Media Kontras
Jika konsentrasi iodium dan flowrate konstan, maka penambahan volume media kontras akan mengakibatkan :
– Puncak penyangatan yang lebih besar
– Puncak penyangatan yang lebih lama

Volume media kontras yang lebih besar bermanfaat untuk membantu memperlama puncak penyangatan.

clip_image001
( Gambar. 4 ). Menunjukan pencapaian puncak penyangatan media kontras dengan perbedaan volume media kontras yang diberikan.

Concentration ( Konsentrasi Media Kontras )
Pada pemeriksaan arterial konsentrasi media kontras akan mempengaruhi puncak penyangatan media kontras dan waktu pencapaiannya, tapi untuk pemeriksaan liver / hepar hal ini tidak berpengaruh. ( Gambar. 5 )

Pada pemeriksaan CTAngio dianjurkan memakai media kontras dengan konsentrasi 300 mgl / ml ke atas. Saat ini di Indonesia terdapat 350 mgl / l dan 370 mgl / l.

clip_image002
( Gambar. 5 ). Menunjukan pencapaian puncak penyangatan media kontras dengan perbedaan konsentrasi media kontras yang diberikan, semakin tinggi konsentrasi media kontras-nya semakin tinggi dan cepat pencapaian puncak penyangatannya.

Tips :
– Pemeriksaan CT dengan MSCT yang sangat cepat, konsentrasi media kontras yang tinggi diperlukan untuk mendapatkan puncak penyangatan media kontras pada fase arteri yang maksimum ( optimal ) dan pada kasus hipervascular tumor.
– Penggunaan media kontras dengan konsentrasi tinggi sebagai pengganti pemakaian pemberian flowrate yang tinggi ( karena suatu hal tidak bisa dilakukan ) dengan harapan tetap mendapatkan puncak penyangatan yang tetap optimal.

Saline Flush ( Pemberian NaCl )
Penggunaan NaCl ( saline ) selain untuk membilas ( flushing ) media kontras juga untuk memanfaatkan media kontras yang masih ada di tabung injector ( atau di conector ) dan media kontras yang masih ada di vena peripheral ( di lengan atau tangan ) untuk dapat di distribusikan ke sistem pusat peredaran darah.

Penggunaan NaCl ( saline ) juga dapat menambah puncak penyangatan media kontras dan efesiensi penggunaan media kontras.
Selain juga dapat mengurangi adanya artifact kontras media di daerah vena cava superior      
( untuk pemeriksaan pulmonum emboli ).

Tips :
– Pemberian 20 ml s/d 30 ml NaCl ditambahkan untuk pemeriksaan CT Rutin dan 50 ml untuk pemeriksaan CT Angio.

Pekembangan media kontras radiologi

Pekembangan media kontras radiologi

Mulai pertengahan tahun 1950 ditetapkan penggunaan bahan dasar molekul benzoat yang setiap molekulnya mengikat tiga atom iodium. Pada tahap ini perkembangan dibagi menjadi:

Bahan Kontras Ionik
penjelasan kontras ionik sebagai berikut:
Ion-ion penyusun media kontras terdiri dari kation (ion bermuatan positif) dan anion (ion bermuatan negatif). Kation terikat pada asam radikal (-COO-) rantai C1 cincin benzena. Kation juga memberikan karakteristik media kontras, dimana setiap jenis memberikan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Ada beberapa macam kation yang digunakan dalam media kontras, di antaranya :

- Sodium (Natrium)
Sifat sodium dalam media kontras adalah menurunkan kekentalan (viskositas), dan lebih sedikit menimbulkan reaksi anafilaksis karena dapat mengurangi mnuculnya zat histamin yang mengakibatkan reaksi alergis. Di lain pihak sodium bersifat lebih korosif terhadap sel endotelium dan parenkim organ tertentu, sehingga lebih toksik dari pada zat lain. 

- Meglumine ( NMG ; N-Methylglucamine)
Meglumine memiliki sifat toksik yang lebih kecil dibanding sodium, akan tetapi meglumine memberikan efek diuretik (mengurangi konsentrasi iodium dalam urin). Pada jenis asam dan konsentrasi yang sama meglumine lebih kecil menimbulkan kenaikan tekanan darah, bradikardia,dan konvulsi dibanding sodium.

- Ethanolamine
Zat ini memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh sodium maupub meglumine, yaitu tidak mempunyai sifat racun dan memiliki viskositas yang rendah, tetapi zat ini menimbulkan vasodilatasi yang cukup kuat.Selain bahan tersebut diatas kadang-kadang pula digunakan kation dari calsium (Ca) dan magnesium (Mg). 

Untuk memperoleh sifat media kontras yang dikehendaki pada pemeriksann radiologi tertentu biasanya dilakukan penggabungan antara beberapa jenis kation dalam satu jenis media kontras.

(1).Bahan Kontras Ionik Monomer
- Bahan Kontras ionik manomer merupakan bentuk bahan kontras ionik yang memiliki satu buah cincin asam benzoat dalam satu molekul
clip_image001
clip_image002
clip_image003

(1). Bahan Kontras Ionik dimer
Merupakan media kontras ionik yang memiliki dua buah cincin asam benzoat dalam satu molekul. Salah satu contoh bentuk dan susunan kimia jenis bahan kontras ini adalah Ioxaglate (Hexabrix) yang merupakan media kontras ionik dimer pertama dibuat ;
image
Bahan Kontras Non-ionik.
  • Dalam susunan kimia media kontras non-ionik sudah tidak dijumpai lagi adanya ikatan ion antar atom penyusun molekul. Kalau dalam media kontras ionik terdapat dua partikel penyususn molekul (kation dan anion) maka dalam bahan kontras non-ionik hanya ada satu partikel penyusun molekul sehingga memiliki karakteristik tersendiri.
Bahan kontras non ionik terbagi menjadi dua:
  • Bahan kontras Non-ionik Manomer Bahan kontras ini berasal dari media kontras ionik monomer yang dibentuk dengan mengganti gugus karboksil oleh gugus radikal non ionik yaitu amida (-CONH2).
  • Bahan Kontras Non-ionik Dimer
    Pembentukan struktur kimia bahan kontras ini melalui proses penggantian pada gugus karboksil media kontras ionik dimer juga oleh gugus radikal non-ionik, yang pada kahir sisntesa menghasilkan perbandingan iodium terhadap partikel media kontras 6:1.Bahan kontras iodium yang umum digunakan
     
    clip_image001[5]

    Jenis bahan baku dasar dari bahan kontras positif

    Ada dua jenis bahan baku dasar dari bahan kontras positif yang digunakan dalam pemeriksaan dengan sinar-X yaitu barium dan iodium. Sebuah tipe bahan kontras lain yang sudah lama adalah Thorotrast dengan senyawa dasar thorium dioksida, tapi penggunaannya telah dihentikan karena terbukti bersifat karsinogen.

    Barium sulfat
    Bahan kontras barium sulfat, berbentuk bubuk putih yang tidak larut. Bubuk ini dicampur dengan air dan beberapa komponen tambahan lainnya untuk membuat campuran bahan kontras. Bahan ini umumnya hanya digunakan pada saluran pencernaan; biasanya ditelan atau diberikan sebagai enema. Setelah pemeriksaan, bahan ini akan keluar dari tubuh bersama dengan feces.

    Bahan kontras Iodium
    Bahan kontras iodium bisa terikat pada senyawa organik (non-ionik) atau sebuah senyawa ionic. Bahan-bahan ionic dibuat pertama kali dan masih banyak digunakan dengan tergantung pada pemeriksaan yang dimaksudkan. Bahan-bahan ionic memiliki profil efek samping yang lebih buruk. Senyawa-senyawa organik memiliki efek samping yang lebih sedikit karena tidak berdisosiasi dengan molekul-molekul komponen. Banyak dari efek samping yang diakibatkan oleh larutan hyperosmolar yang diinjeksikan, yaitu zat-zat ini membawa lebih banyak atom iodine per molekul. Semakin banyak iodine, maka daya attenuasi sinar-X bertambah. Ada banyak molekul yang berbeda. Media kontras yang berbasis iodium dapat larut dalam air dan tidak berbahaya bagi tubuh. 

    Bahan-bahan kontras ini banyak dijual sebagai larutan cair jernih yang tidak berwarna. Konsentrasinya biasanya dinyatakan dalam mg I/ml. Bahan kontras teriodinasi modern bisa digunakan hampir di semua bagian tubuh. Kebanyakan diantaranya digunakan secara intravenous, tapi untuk berbagai tujuan juga bisa digunakan secara intraarterial, intrathecal (tulang belakang) dan intraabdominally – hampir pada seluruh rongga tubuh atau ruang yang potensial.

Efek Samping penggunaan media kontras

Efek Samping penggunaan media kontras

Efek Samping 
Bahan Kontras iodium yang modern merupakan obat-obat yang aman; reaksi-reaksi berbahaya bisa terjadi tapi tidak umum. Efek samping utama dari radiokontras adalah reaksi anafilaktif dan nefropati .

Reaksi-Reaksi Anafilaktif
Reaksi-reaksi anafilaktif jarang terjadi (Karnegis dan Heinz, 1979 dkk., 1987; Greenberger dan Patterson, 1998), tapi bisa terjadi sebagai respon terhadap bahankontras yang disuntikkan atau yang diberikan lewat mulut dan rectal dan bahkan memperburuk pyelografi. Gejalanya mirip dengan reaksi-reaksi anafilaksis, tapi tidak diakibatkan oleh respon kekebalan yang diperantarai IgE. Pasien-pasien yang memiliki riwayat reaksi-reaksi kontras, berisiko tinggi untuk mengalami reaksi-reaksi anafilaktif (Greenberger dan Patterson, 1988; Lang dkk., 1993). Pengobatan dini dengan kortikosteroid telah terbukti dapat mengurangi kejadian reaksi-reaksi yang berbahaya (Lasser dkk., 1988; Greenberger dkk., 1985; Wittbrodt dan Spinler, 1994). 

Reaksi-reaksi anafilaktif bisa mulai dari urticaria dan gatal-gatal, sampai bronchospasma dan edema facial dan laryngeal. Untuk kasus-kasus urtikaria yang sederhana dan gatal-gatal, Benadryl (diphenhydramine) lewat mulut atau IV (intravenous) bisa diberikan. Untuk reaksi-reaksi yang lebih parah, antara lain bronchospasma dan edema leher atau wajah dapat diberikan inhaler albuterol, atau epinefrin IV atau subcutaneous, ditambah diphenhydramine mungkin diperlukan. Jika respirasi terganggu, saluran udara harus dibebaskan .

Nefropati yang Ditimbulkan oleh Medium Kontras
Nefropati oleh media kontras dapat ditimbulkan baik oleh peningkatan kreatinin darah lebih besar dari 25% atau peningkatan mutlak kreatinin darah yang mencapai 0,5 mg/dL. Ada tiga faktor yang terkait dengan meningkatnya risiko nefropati yang dipengaruhi oleh medium kontras, yaitu: gangguan ginjal sebelumnya (seperti penurunan kadar kreatinin < 60 mL/menit (1.00 mL/detik), diabetes yang telah ada sebelumnya, dan volume intravascular yang berkurang (McCullough, 1997); Scanlon dkk., 1999). Osmolalitas bahan kontras diyakini sangat berperan dalam nefropati. Idealnya, bahan kontras harus isoosmolar terhadap darah. Bahan kontras beriodium yang modern biasanya nonionic, tipe-tipe ionic yang terdahulu biasa menyebabkan efek yang lebih berbahaya dan tidak digunakan lagi. Untuk meminimalisir risiko terjadinya nefropati akibat medium kontras, maka berbagai tindakan bisa dilakukan yang kesemuanya telah dianalisis dalam sebuah meta-analisis yaitu : 

1. Dosis media kontras harus diupayakan serendah mungkin, meski masih mampu ditmabhkan untuk melakukan pemeriksaan . 
2. Bahan kontras bersifat non ionic
3. Media kontras yang nonionic dan iso-osmolar. Salah satu percobaan terkontrol acak menemukan bahwa sebuah bahan kontras nonionic iso-osmolar lebih baik dibanding media kontras non-ionik low-osmolar. 
4. Hydrasi cairan intravenous dengan larutan garam. Masih ada pertentangan tentang cara yang paling efektif untuk hidrasi cairan intravenous. Salah satu metode adalah 1 mg/kg per jam selama 6-12 jam sebelum dan setelah pemberian kontras. 
5. Hidrasi fluida intravenous dengan larutan garam ditambah sodium bikarbonat. Sebagai sebuah alternatif bagi hydrasi intravenous dengan larutan garam biasa, pemberian sodium bikarbonat 3 mL/kg per jam selama 1 jam sebelumnya, diikuti dengan 1 mL/kg per jam selama 6 jam setelah pemberian bahan kontras diketahui lebih baik ketimbang larutan garam biasa pada salah satu percobaan terkontrol acak. Ini selanjutnya didukung dengan sebuah percobaan terkontrol acak multi-senter, yang juga menunjukkan bahwa hydrasi intravenous dengan sodium bikarbonat lebih baik terhadap 0,9% larutan garam normal. Efek renoprotektif dari bikarbonat dianggap diakibatkan oleh alkalinisasi urin, yang menciptakan sebuah lingkungan yang lebih rentan terhadap pembentukan radikal bebas yang berbahaya. 
6. N-asetilcystein (NAC). NAC, 600 mg secara oral dua kali sehari, pada hari sebelum selama prosedur jika pelepasan kreatinin diperkirakan lebih kecil dari 60 mL/menit (1,00 mL/detik). 

Sebuah percobaan terkontrol acak menemukan dosis NAC yang lebih tinggi (1200 mg IV bolus dan 1200 mg secara oral dua kali sehari selama 2 hari) dapat membantu (pengurangan risiko relatif sebesar 74%) pasien yang menerima angioplasty koroner dengan volume kontras yang lebih tinggi. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa N-asetilcystein melindungi ginjal dari efek toksik bahan kontras (Gleeson & Bulugahapitiya 2004). Efek ini, tidak merata, beberapa peneliti (seperti Hoffman dkk., 2004) telah mengklaim bahwa efek ini diakibatkan oleh gangguan dengan uji laboratorium kreatinin itu sendiri. Ini didukung oleh kurangnya korelasi antara kadar-kadar kreatinin dan kadar cystatin C. Agen-agen farmakologis lain, seperti furosemida, mannitol, theophylline, aminophylline, dopamine, dan atrial natriuretic peptide telah dicoba, tapi belum ada efek menguntungkan atau justru memiliki efek yang membahayakan (Solomon dkk., 1994; Abizaid dkk., 1999). 

Reaksi Kemotoksik Pasien yang memiliki kelainan pada kelenjar gondok sering mengalami reaksi kemotoksik setelah menjalani pemeriksaan dengan bahan kontras. Sebenarnya atom iodium yang terikat kuat dalam senyawa bahan kontras tidak memberikan pengaruh yang besar. Ia hanya sensitif terhadap ion iodida bebas yang sedikit banyak terdapat dalam bahan kontras. Kenaikan intake iodida inilah yang menyebabkan tirotoksikosis. Kontribusi makanan-laut dan alergi-alergi lain Disini harus ditekankan bahwa dugaan tentang “alergi” makanan laut, yang seringkali lebih didasarkan pada mitos dibanding fakta, bukanlah sebuah kontraindikasi yang cukup terhadap penggunaan bahan kontras beriodum. 

Sebuah hubungan antara kadar iodium dalam makanan laut dan alergi akibat makanan laut merupakan bagian dari bidang medis. Meski kadar iodine dalam makanan laut lebih tinggi dibanding pada makanan non-laut, namun konsumsi yang terakhir ini melebihi yang pertama dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kandungan iodine makanan laut terkait dengan reaksi-reaksi terhadap makanan-laut (Coakley dan Panicek, 1997). Data yang ada menunjukkan alergi akibat makanan laut dapat meningkatkan risiko sebuah reaksi yang diperantarai bahan kontras dengan jumlah yang kira-kira sama seperti alergi terhadap buah atau sama dengan yang menyebabkan asma (Shehadi, 1975). 

Dengan kata lain, lebih dari 85% pasien yang mengalami alergi makanan-laut tidak akan memiliki reaksi yang berbahaya terhadap kontras beriodium (Coakley dan Panicek, 1997). Terakhir, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa reaksi-reaksi kulit yang berbahaya terhadap antiseptic-antiseptik topikal yang mengandung iodium (seperti betadin, povidin) yang banyak hubungannya dengan pemberian bahan kontras IV (Coakley dan Panicek, 1997; can Ketel dan van den Berg,1990).

Kontras Media

BAHAN KONTRAS

      Bahan Kontras merupakan senyawa-senyawa yang digunakan untuk meningkatkan visualisasi (visibility) struktur-struktur internal pada sebuah pencitraan diagnostic medik.Bahan kontras dipakai pada pencitraan dengan sinar-X untuk meningkatkan daya attenuasi sinar-X (Bahan kontras positif) serta menurunkan daya attenuasi sinar-X (bahan kontras negative dengan bahan dasar udara atau gas). Selain itu bahan kontras juga digunakan dalam pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging), namun metode ini tidak didasarkan pada sinar-X tetapi mengubah sifat-sifat magnetic dari inti hidrogen yang menyerap bahan kontras tersebut. Bahan kontras MRI dengan sifat demikian adalah Gadolinium.

Sejarah
Penggunaan media kontras pada pemerikasaan radiologi bermula dari percobaan Tuffier pada tahun 1897, dimana dalam percobaannya ia memasukkan kawat kedalam ureter melalui keteter., sehingga terjadi bayangan ureter dalam radiograf. Percobaan selanjutnya yaitu dengan menggunakan kontras cair untuk menggambarkan anatomi dari traktus urinarius. Kontras tersebut diantaranya : koloid perak,bismut,natrium iodida,perak iodida, stronsium klorida, dan sebagainya. Berangsur-angsur metode tersebut mulai ditinggalkan karena menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Infeksi, trauma jaringan, terjadinya emboli, dan deposit perak dalam ginjal merupakan akibat sampingan yang tidak bisa dihindari.

Berpijak dari pengalaman-pengalaman terdahulu kemudian para ahli radiologi sepakat untuk megadakan pembaharuan dalam pemakaian media kontras pada pemeriksaan radiologi. Dan pada tahun 1928 seorang ahli urologi, Dr.Moses Swick bekerjasama dengan Prof.Lichtwitz,Binz, Rath, dan Lichtenberg memperkenalkan penemuannya tentang media kontras iodium water-soluble yang digunakan dalam pemeriksaan urografi secara intravena. Media kotras yang berhasil disintesa, diantranya dalah :sodium iodopyridone-N-acetic acid yang disebut Urosectan-B (Iopax), dan sodium oidomethamate yang disebut Uroselectan-B (Neoiopax). Dari segi radiograf kedua macam media kotras tersebut memberikan hasil yang memuaskan, namun dari pasiennya masih menimbulkan efek yang merugikan, yaitu : mual dan muntah. Selanjutnya Dr.Swick dan kawan-kawan melanjutkan usahanya dengan mengembangkan Iodopyracet yang sementara waktu bisa menggantikan kedudukan Neoiopax dalam pemerikasaan Urografi intra vena. 

Usaha mengembangkan media kontras pun terus berlanjut. Mulai pertengahan tahun 1950 semua jenis media kontras untuk pemakaian secara intravaskuler untuk pemakaian secara intravaskular mulai mengalami pergantian. Mulai periode ini media kontras intravaskular menggunakan molekul asam benzoat sebagai bahan dasarnya dengan mengikat tiga atom iodium. Dari hasil uji coba membuktikan bahwa media kontras jenis ini memiliki kelebihan dibanding dengan jenis media kontras sebelumnya. Jenis media kontras tersebut diantarannya ; acetrizoate dibuat tahun 1950, diatrizoate tahun 1954, metrizoate tahun 1961, iothalamate tahun 1962, iodamide tahun 1965 dan ioxithalamate tahun 1968. Akhirnya media kontras yang dapat pula digunakan secara intravaskular secara kontinyu terus mengalami penyempurnaan.

Dari hasil penelitian membuktikan bahwa ionisitas dan osmolalitas merupakan kunci utama terjadinya keracunan pada pasien. Kemudian mulai tahun 1969 dr.Torsten Almen mengembangkan jenis media kontras non-ionik dengan osmolalitas yang cukup rendah. Mula-mula ia mengadakan penelitian terhadap keluarga Metrizamide yang sebelumnya dipakai pada pemeriksaan mielografi. Dengan diciptakannya media kontras water soluble untuk pemeriksaaan mielografi, penggunaan secara intravaskular mulai dipelajari. Hasil akhir penelitian memberikan jalan yang terbaik untuk segala macam pemeriksaan radiologi yang menggunakan media kontras iodium non-ionik water-soluble secara intravaskular

TELERADIOLOGY

 Perkembangan teknologi informasi bisa dimanfaatkan pada bidang radiologi, saat ini penggunaan teleradiology sudah mulai merambah ke segala penjuru dunia, untuk diindonesia saja perkembangan teknologi sudah mulai dilakukan bahkan sudah ada undang undangnya melalui penggunaan teleradiology, sebenarnya penggunaan teleradiology ada dampak postif dan negatifnya, ada salah satu rumah sakit di indonesia yang memanfaatkan teknologi ini dengan mengirimkan hasil pemeriksaan radiologi untuk dievaluasi oleh dokter luar negeri. untuk lebih lengkapnya jika ingin tahu tentang teleradiology anda bisa baca baca artikel dibawah ini:

Berbagai jenis peralatan atau pendeteksi yang digunakan untuk mendapatkan gambar tubuh, seperti X-Ray, USG , MRI, CT , dll

DICOM (Digital Imaging and COmmunications in Medicine)
Sebuah standar format yang digunakan untuk penyimpanan, pendistribusian, dan juga pencetakan citra/image dalam bidang medis.

PACS
Sebuah tekhnologi medis yang untuk menampung dan mendistribusikan data dari atau ke beberapa modalitas/alat radiologi.
Kenapa teleradiology:
•Integritas
• Komunikasi
• Real Time
• Efesiensi Biaya
• Flexibel
• Peningkatan Pelayanan

Konsep teleradiology:

image

Web-based Teleradiology

image

Teleradiologi Application
  • Linux atau Windows Operating System
  • Reporting Workstation
  • Modality independent
  • CT, MR, US, CR, DX, XA, …
  • Single images, Multi-frames
  • b/w, color
  • Teleconferencing
  • Search, Sort, Filter
  • Zoom/Pan, Magnifying glass
  • Measurements (length, angles, roi statistics, …)
  • Stack Mode, Tile Mode, Cine Mode
  • Multi slice Mode (Thick Slice, MIP, 3D)
  • Fungsi MPR (Multi Planar Reconstruction)
Teleconference Function
  • Sinkronisasi Data
  • Sinkronisasi fungsi
  • 2 pointer mouse
  • Live Chatting
  • Penggunaan yang “User Friendly”
KESIMPULAN :
• Teleradiologi berfungsi mengirim, menerima, & manajemen data antar RS.
•Teleradiolgi menjadi bagian dari pembentukan telemedicine.
• Teleradiologi sangat cocok diterapkan untuk negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau.
•Memberikan terobosan bagi dunia medis Indonesia.
•Teleradiologi dapat meningkatkan pelayanan terhadap pasien.

Senin, 22 September 2014

SINGLE PHOTON EMISSION COMPUTED TOMOGRAPHY ( S P E C T )

Single Photon Emission Computed Tomography, Prosedur scanning pada Kedokteran Nuklir yang mengukur emisi konvensional single photon γ yang diemisikan oleh pasien dengan menggunakan gamma camera dengan tujuan untuk menghasilkan rekonstruksi.

SEJARAH SPECT
- Th 1940-an Metode sederhana dengan single detector
- Th 1950-an Ben Classen –> Rectilinear Scanner
- Th 1953 Hal Anger –>Pin Hole
- Akhir th 1950-an Penggunaan kristal NaI dan PMT
- Th 1963 Kuhl & Edwards memperkenalkan gambar tomografi yang dihasilkan oleh Anger Camera.
- Th 1983 penggunaan compton camera untuk SPECT
image

Similar to X-ray Computed Tomography (CT) or Magnetic Resonance Imaging (MRI).

imageimageimage

Fungsi SPECT adalah untuk memfisualisasikan fungsi dari organ tubuh.
TEKNOLOGI SPECT
Gamma Camera dengan desain khusus.
Ø. Mempunyai 1, 2 atau 3 detector head.
Ø. Makin banyak detector head, akuisisi data makin cepat.
image

teknologi SPECT
Rotating Gamma Camera ® berputar 180°- 360° mengelilingi pasien.
Akuisisi data oleh detector
Ø Didapatkan 1 seri gambar matrix dinamic planar.
Ø Terdiri dari 64 gambar pada matrix 128 x 128
Rekonstruksi data oleh komputer
ØFiltered back Projection (lihat gbr)
ØDalam beberapa format : transaxial, sagital, coronal, planar dan 3 dimensi.
Pemilihan main operator,
ØAkuisisi gambar :
-Ukuran matrix gambar
-Rotasi 180° atau 360°
-Pemilihan kolimator
-Waktu Akuisisi
-Kesamaan faktor korek
ØRekonstruksi gambar :
-Pemilihan pre-filter image
-Pemilihan filter rekonstruksi
-Koreksi atenuasi
-Koreksi scattering
-Orientasi Slice
SPECT Tracers
image

Substansi radioaktif pada SPECT  ( Xenon-133, Technesium-99, Iodine-123 ) mempunyai waktu peluruhan lebih lama.
Memancarkan single gamma ray.

PENGGUNAAN SPECT
Penggunaan secara umum : Cardiac perfusion, brain, liver, renal & bone study.
Contoh : Myocardium Perfusion Thallium, Mengidentifikasi defect dinding vent. Menyuntikan Thallium®Stress study & relaxation study.

Heart Imaging
image
The following figure is a myocardial MIBI scan taken under stress conditions.  Regions of the heart that are not being perfused will display as cooler regions.
Kidney/Renal Imaging, The following is a renal planar scan using MAG3 tracer (a glucose analog). 
Bone Scans, Bone scans are typically performed in order to assess bone growth and to look for bone tumours. The tumors are the dark areas seen in the picture below.
Kelemahan dan Kelebihan SPECT
Ø. Citra SPECT mempunyai sensitifitas dan detail yang kurang dibanding PET.
Ø. Teknologi SPECT tidak semahal PET karena SPECT center lebih mudah diakses –> tidak harus berlokasi dekat dengan particle accelerator.

INSTRUMENTASI KEDOKTERAN NUKLIR

Ada 3 instrumen utama dalam kedokteran nuklir:
1.Sample counters
2.Detektor
3.Alat penggambar

Bagian – bagian Kamera Gamma
1.Gantry
terdiri dari :
  • kepala detektor : kolimator, kristal sintilasi, photo multiplier tube (PMT), peralatan elektronik lainnya
  • Cincin gantry
  • Rak
  • Meja paasien
KALIMATOR
Digunakan untuk memfokuskan sinar gamma dari organ yang sudah diberi radiofarmaka ke detektor sintilator
Jenis-jenis kolimator :
1.Paralel hole
image
2.Konverging
image
2.Diverging
image
4.Pin hole
image
Efektifitas kolimator bergantung pada :
1.Dimensi (besar, jumlah, panjang, tebal)

2.Jarak dari objek : untuk scanning jarak harus sedekat mungkin dengan objek agar resolusi yang dihasilkan bagus

3.Energi gamma yang digunakan :
energi 70-140 keV = low energi
260-400 keV = medium energi
> 400 keV = high energi

4.Susunan pipa : pada paralel hole tidak ada efek pembesaran

DETEKTOR
Merupakan alat penangkap radiasi
Macam – macam detektor :
1.Detektor Isian Gas
dibagi menjadi 3 :
a.Detektor kamar ionisasi (ionization chamber)
ciri-ciri :
  • Tegangannya rendah
  • Tidak terjadi pelipat gandaan (multiplikasi) jumlah ion
  • Jumlah elektron sama dengan jumlah elektron yang dihasilkan oleh proses ionisasi radiasi pengion prime
  • Ionisasi langsung merupakan interaksi radiasi + bahan detektor
  • Tabung detektor dibuat dari material bernomor atom rendah
  • Dapat membedakan energi
b.Detektor Proporsional
Ciri – ciri :
  • Denyut output yang dihasilkan sangat rendah
  • Perlu tegangan yang super stabil
  • Mampu mendeteksi radiasi dengan intensitas yang cukup rendah
c.Detektor Geiger Muller (GM)
Ciri-ciri :
  • Pulsa tidak tergantung pada ionisasi mula-mula maupun jenis radiasi
  • Tidak dapat membedakan jenis radiasi yang ditangkap
  • Hanya digunakan untuk mengetahui ada tidaknya radiasi saja
  • Denyut output yang dihasilkan sangat tinggi
  • Tidak perlu penguat pulsa
2.Detektor Sintilasi
dibagi menjadi 3 :
a. Natrium Iodide ( NaI) yang ditambah Tallium
b. Ceasium Iodide (CSI)
c. Bismuth Germinate (BiGeO)
3.Detektor Semikonduktor
a. CdTi
b. Ge (Li)

PHOTOMULTIPLIER TUBE
Fungsi : merubah signal cahaya menjadi signal elektrik secara terukur
1 Elektroda I = photokatoda
fungsinya : mengubah cahaya menjadi elektroda,dipercepat dengan tegangan searah menuju elektroda selanjutnya (dynoda), dynoda terakhir yaitu anoda yang menghasilkan pulsa output yang akan diperkuat oleh preamplifier & amplifier.
Signal keluaran PMT memiliki 3 komponen yaitu :
1.Spatial koordinat X
2.Spatial koordinat Y
keduanya sebagai sumbu & dapat langsung diamati dalam komputer
3.Spatial koordinat Z
sebagai parometer intensitas yang akan diproses lebih lanjut oleh Pulsa Hight Analyzer
Pulsa Height Analyzer
Prinsip : membuang signal yang berasal dari background, radiasi hambur, dan hanya mencatat photon yang berasal dari photopeak yang dikehendaki

2 Hand Controller
untuk :
  • Menggerakkan detektor secara rotasi
  • Menggerakkan gantry secara rotasi / translasi
  • Menggerakkan meja naik turun
  • Tombol “ start “ & “ stop “ untuk proses pengambilan data
3. Display Panel, digunakan untuk mengetahui posisi gantry, detektor, dan meja pasien

4. Pengganti Kolimator untuk menyimpan kolimator yang tidak dipakai & untuk membantu memudahkan penggantian kolimator

5. Rak Elektronik, berisi 2 komputer yang dilengkapi dg floppy disk drive

6. Imager, alat yang dihubungkan dengan komputer untuk membuat gambar pada film radiografi (hard copy)