Marquee

SELAMAT DATANG DI BLOG INI, SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA, TERIMA KASIH

Rabu, 08 Oktober 2014

RADIOGRAFI THORAX

RADIOGRAFI THORAX



Fungsi Paru-paru sangat penting sekali bagi tubuh manusia. Sebab tanpa paru-paru manusia tidak bisa bernafas dan akhirnya mati. Fungsi Paru-paru yang paling utama adalah mengeluarkan karbondioksida saat manusia bernafas.
Paru-Paru dan Fungsi Paru-ParuParu-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan dan kiri yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang memiliki tiga gelambir dan paru-paru kiri memiliki dua gelambir.
Paru-paru sebenarnya merupakan kumpulan gelembung alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut selaput pleura.

Fungsi Paru-paru
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, Fungsi Paru-paru untuk mengeluarkan karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O).
Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung.
Kelainan-kelainan pada Fungsi Paru-paru, diantaranya adalah :
  1. Asma atau sesak nafas yaitu kelainan yang disebabkan oleh penyumbatan saluran pernafasan yang diantaranya disebabkan oleh alergi terhadap rambut, bulu, debu atau tekanan psikologis.
  2. Kanker Paru-Paru yaitu gangguan paru-paru yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Penyebab lain adalah terlalu banyak menghirup debu asbes, kromium, produk petroleum dan radiasi ionisasi. Kelainan ini mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru.
  3. Emphysema adalah penyakit pembengkakan paru-paru karena pembuluh darahnya terisi udara.
Upaya menghindari dan mengatasi kelainan-kelainan pada fungsi paru-paru adalah dengan menjalankan pola hidup sehat, diantaranya :
  1. Mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi secara teratur .
  2. Berolah raga dengan teratur .
  3. Istirahat minimal 6 jam per hari .
  4. Mengindari konsumsi rokok, minum minuman beralkohol dan narkoba .
  5. Hindari Stress.

 Tujuan pemeriksan foto thoraks :
Menilai adanya kelainan jantung, misalnya : kelainan letak
jantung, pembesaran atrium atau ventrikel, pelebaran dan penyempitan
aorta.
Menilai kelainan paru, misalnya edema paru, emfisema paru, tuberkulosis paru.
Menilai adanya perubahan pada struktur ekstrakardiak.
Gangguan pada dinding toraks • Fraktur iga • Fraktur sternum
Gangguan rongga pleura • Pneumotoraks • Hematotoraks • Efusi pleura

Gangguan pada diafragma • Paralisis saraf frenikus

Menilai letak alat-alat yang dimasukkan ke dalam organ di rongga toraks misalnya: EET, CVP, NGT dll


Foto Thorax Proyeksi PA

Pathologi
-efusi pleura, pneumothorax, atelectasis

posisi pasien
-Pasien diposisikan erect menghadap bucky stand, dagu di angkat
-Tangan di pinggang, telapak tangan keluar, dan siku ditekan ke depan
shoulder dirotasikan ke depan agar scapula menjauh dari bidang paru-paru

Posisi Obyek
-MSP sejajar dengan garis tengah kaset
-pastikan tidak ada rotasi pada thorax
                                                                     Posisi Pasien
FFD : 180 cm

CR : horizontal

CP : pada MSP setinngi thoracal 7 ( 18 - 20 dibawah vertebra prominen atau pada inferior 




Gambar yang ditampakkan
terlihat keseluruhan lapangan paru, dari apex paru sampai sinus costoprenicus tidak terpotong, udara pada trakea, tampah hilum, tampak jantung, tampak pembuluh darah besar 

 

FOTO THORAX POSISI AP

  • Pasien diposisikan setengah duduk atau supine di atas meja pemeriksaan/brandcar.
  • Kedua lengan lurus disamping tubuh.
  • Kaset di belakang tubuh, MSL // grs tengah kaset
  • FFD: 150 cm
  • CR tegak lurus kaset, CP pada MSL setinggi CV TH VI
  • Beri marker L / R
  • Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh

KRITERIA FOTO THORAX POSISI AP :

  • Tampak gambaran thorax proyeksi AP
  • Batas atas apex paru
  • Batas bawah sinus costophrenicus
  • Dinding lateral tidak terpotong
  • CV TH sampai ruas ke empat
  • Diafragma mencapai iga IX belakang
  • Tampak bayangan bronchus
  • Marker L / R & identitas pasien
  • Foto simetris

FOTO THORAX POSISI LATERAL

  • Pasien diposisikan erect, MSP // kaset
  • Kedua lengan dilipat di atas kepala
  • Pasang Marker L / R sesuai dengan sisi yang dekat ke kaset
  • FFD: 150 cm,
  • CR : horizontal
  • CP kira-kira satu inci ke depan dari MCL setinggi CV TH VI
  • Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh
 
KRITERIA GAMBARAN POSISI LATERAL:

  • Tampak gambaran thorax proyeksi lateral
  • Bagian Anterior mencakup gambaran sternum
  • Bagian Posterior mencakup Col.Vert. Thoracalis
  • Batas atas apex paru
  • Batas bawah sinus coctoprhenicus dan paru posterior
  • Gambaran iga-iga kiri dan kanan superposisi
  • Gambaran bahu tidak menutupi apex paru

Senin, 29 September 2014

RADIASI

Pengertian Radiasi

Pengertian radiasi :
- Pancaran dan perambatan energi melalui materi atau ruang dalam bentuk gelombang elektro magnetik atau partikel

Contoh :
-perambatan panas,
-perambatan cahaya,
-perambatan gelombang radio

Sumber Radiasi

Sumber Radiasi Alam
1. Sumber Radiasi Kosmik
·partikel dan sinar yang berenergi tinggiimage
·Umumnya terdiri dari partikel proton. Dipengaruhi oleh medan magnet bumi.
.bergantung kepada ketinggian, radiasi semakin besar apabila posisinya semakin tinggi

image

Penerbangan pada ketinggian 13 km, ketinggian yang umum untuk penerbangan komersial, memberikan tambahan dosis 0,005 mSv (0,5 mrem) per jam penerbangan untuk setiap penumpang.

2. Sumber Radiasi Terestrial
•secara natural dipancarkan oleh radionuklida di dalam kerak bumi,
•Radiasi terestrial terbesar berasal dari Radon (Rn-222) dan Thoron (Rn-220)
•bergantung kepada konsentrasi sumber radiasi di dalam kerak bumi

image

Jika gas radon keluar dari tanah, gas radon akan terdispersi (tersebar) ke udara. Karena itu, konsentrasi radon di lingkungan udara terbuka akan kecil. Namun, jika gas radon memasuki ruangan tertutup, khususnya melalui lantai rumah, konsentrasinya akan meningkat

3. Sumber Radiasi di Dalam Tubuh
•berada di dalam tubuh manusia sejak dilahirkan
•atau masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman, pernafasan, atau luka.
•terutama diterima dari radionuklida C-14, H-3, K-40, radon.
•sumber lain seperti Pb-210 dan Po-210 banyak berasal dari ikan dan kerang-kerangan.
•Buah-buahan biasanya mengandung unsur K-40.
sinar kosmik yang ada pada sinar matahari berinteraksi dengan atom-atom karbon dari molekul CO2, hingga menghasilkan karbon 14; karbon ini selanjutnya mengalami proses asimilasi (fotosintesa) dalam daun-daunan berwarna hijau dan menjadi zat pati (hidrat arang); zat pati ini lalu dimakan dimakan oleh sapi atau kambing, yang akhirnya dikonsumsi manusia dalam bentuk daging hewan maupun air susunya.
Kalium adalah mineral yang dibutuhkan tubuh. Namun 4 di antara 10 ribu atom kalium yang ada di alam, memiliki isotop 40 yang termasuk zat radioaktif. Nah, sewaktu kita minum air, bersama dengan mineral lain seperti natrium, kalsium, dan yodium, maka kalium (yang di antaranya berisotop 40) akan masuk ke tubuh hingga ke dalam sel-sel penyusun tubuh.

Sumber Radiasi Buatan
1. Zat Radioaktif
•dibuat berdasarkan reaksi inti antara nuklida yang tidak radioaktif dengan neutron (reaksi fisi di dalam reaktor atom), aktivasi neutron, atau berdasarkan penembakan nuklida yang tidak radioaktif dengan partikel atau ion cepat
•bisa memancarkan jenis radiasi alpha, beta, gamma dan neutron.

2. Pesawat Pembangkit Radiasi
image
3. Akselerator
•alat yang digunakan untuk mempercepat partikel bermuatan (ion).
•untuk memproduksi zat radioaktif dengan proton berenergi tinggi, sinar-X berenergi tinggi dengan elektron yang dipercepat,
Contoh :
- akselerator linier (LINAC = linear accelerator) yang mempunyai lintasan garis lurus
-cyclotron yang mempunyai lintasan berbentuk lingkaran

4. Reaktor Nuklir
•Mekanisme utama
X + nt à Y1 + Y2 + nc + Q
X = inti yang dapat belah (fisil) seperti U-235
nt = neutron termal
Y1 dan Y2 = inti hasil belah yang radioaktif .
Nc = neutron cepat
Q = energi panas
•Energi panas dapat dimanfaatkan untuk menggerakan turbin sehingga dapat menghasilkan listrik (PLTN).

Pengendali Radiasi

FAKTOR PENGENDALIAN RADIASI EKSTERNA
• WAKTU —-> meminimalkan waktu pemaparan
• JARAK —-> memaksimalkan jarak dari sumber radiasi
• PENAHAN —-> memasang penahan radiasi yang sesuai dengan jenis
PENGENDALIAN RADIASI INTERNA
•Pengendalian Sumber Radiasi
–Pembatasan ZRA dengan aktivitas yang sesuai
–pembatasan penyebaran sumber radiasi, dengan: glove-box, lemari asam
•Pengendalian Lingkungan kerja
–disain gedung, ruangan, fasilitas fisik
–Pemantauan kontaminasi (langsung dan tak langsung)
–Dekontaminasi (cara fisika dan kimia)

SUMBER RADIASI INTERNA
  • sumber terbuka : menyebabkan kontaminasi
  • masuk ke dalam tubuh melalui :
               – inhalasi : jalur pernafasan
              – injesi : jalur pencernaan
             -penyerapan : melalui kulit / luka

PENGENDALIAN RADIASI INTERNA
•Pengendalian Pekerja Radiasi
–Penggunaan pakaian pelindung:
– baju laboratorium, coveralls, cap, sarung tangan, alas kaki khusus, atau shoe cover

PROTEKSI RADIASI

Proteksi radiasi

Proteksi Radiasi :
Adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh radiasi yang merusak akibat paparan radiasi
( PP Nomor 33 Tahun 2007 )

Tujuan Proteksi radiasi :
Mencegah terjadinya efek non-stokastik, dan membatasi peluang terjadinya efek stokastik.

Efek radiasi
Efek Stokastik :
•Tidak ada nilai ambang
•Probabilitas berbanding lurus dengan dosis
•Umumnya terjadi pada sel tunggal
•Misalnya: kanker, efek genetik
Contoh : Kanker.

Efek non-Stokastik :
–Adanya nilai dosis ambang ( dibawah dosis ini, efek radiasi tidak akan terjadi).
–Keparahan efek radiasi berbanding lurus dengan dosis
–Melibatkan sejumlah besar sel
Contoh : Kerusakan lensa mata, kemandulan, eritema.

skema efek radiasi:
image

Filosofi Proteksi Radiasi

Prinsip Proteksi Radiasi:
ALARA (as low as reasonably achieveable),
Dosis serendah yang dapat diterima akal sehat dengan mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi. 

Persyaratan Proteksi Radiasi :
-Justifikasi, Manfaat lebih besar dari risiko
-Limitasi dosis, Adanya nilai limitasi dosis
-Optimisasi, Penggunaan dosis yg optimal

image 

AZAS PROTEKSI RADIASI

OPTIMISASI
1.PAPARAN SERENDAH MUNGKIN YANG DAPAT DICAPAI (ALARA). 

2.PEMBATAS DOSIS UNTUK PERSONIL DAN ANGGOTA MASYARAKAT

a.Disain ruangan : ½ NBD
b.Pendamping pasien : 2 mSv selama pemeriksaan
c.Mencegah pengulangan paparan

3.TINGKAT PANDUAN PAPARAN MEDIK

TINGKAT PANDUAN PAPARAN
image

LIMITASI
Dari prinsip optimasi, paparan radiasi harus seminimal mungkin. Secara kuantitatif berapa? Nah, ini yang menjadi prinsip yang ketiga. Limitasi menyatakan bahwa dosis efektif terhadap individu harus DIBATASI sesuai dengan ambang dosis yang direkomendasikan, sehingga paparan radiasi yang mengenai manusia tidak memberikan efek apapun baik itu yang bersifat deterministik (seperti rusaknya sel darah merah, gonad) maupun yang bersifat probabilistik (misal resiko timbulnya kanker).

LIMITASI DOSIS
• Limitasi Dosis mengacu pada Nilai Batas Dosis (NBD)
• Dalam kondisi operasi normal
• Berlaku untuk
      – Pekerja Radiasi dan
      – Masyarakat
• Tidak berlaku untuk
     – Pasien
     – Pendamping pasien

NILAI BATAS DOSIS

NBD adalah dosis terbesar yang diizinkan oleh BAPETEN yang dapat diterima oleh pekerja radiasi dan anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik yang berarti akibat pemanfaatan tenaga nuklir.

NBD Pekerja radiasi :
•Dosis Efektif seluruh tubuh 20 mSv rata2 lima tahun
•Dosis efektif seluruh tubuh 50 mSv dalam 1 tahun tertentu
•Dosis Ekivalen untuk lensa mata 150 mSv dalam 1 tahun
•Dosis Ekivalen untuk kulit, tangan & kaki 500 mSv dalam 1 tahun

NBD Masyarakat Umum :
•Dosis Efektif seluruh tubuh 1 mSv dalam 1 tahun
•Dosis Ekivalen untuk lensa mata 15 mSv dalam 1 tahun
•Dosis Ekivalen untuk kulit 50 mSv dalam 1 tahun

Contoh :
image

Minggu, 28 September 2014

TEKNIK RADIOGRAFI BNO IVP

Prosedur pemeriksaan radiologi saluran kencing

Untuk mengetahui penyakit saluran kencing sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan diradiologi, Salah satunya adalah dengan menggunakan pemeriksaan radiologi BNO IVP.
 
APA ITU BNO IVP:
BNO IVP dalah pemeriksaan radiologi pada organ saluran kencing dimulai dari ginjal, ureter, dan kandung kencing dengan menggunakan bahan kontras yang dimasukan lewat pembuluh darah vena.
sebelum pemeriksaan dimulai pasien akan dilakukan skin test, dan skin IV alergi, dan pasien harus mengisi inform concern persetujuan tindakan, dan juga di tanyai mengenai riwayat penyakit pasien seperti halnya apakah pasien mempunyai riwayat gula (DM), riwayat jantung, riwayat hipertensi, dan yang lainnya sejelas mungkin agar pelaksanaanya nyaman dan aman bagi pasien, radiografer, dan radiolog.


INDIKASI :
  • Batu
  • Kelainan bawaan
  • Tumor
  • Duplikasi ureter & renal pelvis :bentuk ureter yg bercabang dan termasuk kelainan bawaan
  • Ektopik kidney : bentuk ginjal tidak normal dalam perkembangannya ke arah abomen (atas) spt tertahan pada daerah pelvis
  • Ginjal berbentuk spt ladam kuda
  • Pergerakan ginjal yg abnormal ( mal rotation) : dari medial ke ant/ post
  • Cystitis
  • Glomerulo nephritis
  • Hidronephrosisi : distensi dari renal pelvis dan sisten kalises dari ginjal yg disebabkan oleh obstruksi renal pelvis atau ureter
  • Hipertensi ginjal : meningkatnya tekanan darah pada ginjal melalui renal arteri
  • Obstruksi ginjal : obstruksi pada ginjal yg disebabkan oleh batu, trombosis dan trauma

KONTRA INDIKASI :
  • Alergi terhadap bahan kontras
  • Tidak adanya eksresi dari urine
  • Bisa terjadi gagal jantung
  • Gangguan pada hepar
  • Diabetes
  • Perforasi ureter
  • Gagal ginjal akut/ kronis
  • Hematuri

MANFAAT PEMERIKSAAN BNO-IVP:
Untuk menilai sistem kandung kencing, seberapa cepat pasien bisa menahan kandung kencing dalam proses buang air kecil.
Membantu diagnosa adanya gejala kencing darah, nyeri pinggang sebelah kanan atau kiri.
Untuk mendeteksi antara lain:
batu ginjal, pembesaran prostat, tumor ginjal, ureter, dan kandung kemih
Untuk mengetahui kelainan anatomi.

PERSIAPAN PASIEN:
Pasien harus diet makan sehari sebelum pemeriksaan seperti makan makanan lunak rendah serat bubur, boleh tambah telur, goreng, rebus, 12 jam sebelum pemeriksaan dimulai maka pasien harus tahan makan, namun boleh minum air putih.
Setelah makan malam pasien minum dulkolak tablet 4 biji, boleh di kasih jeda waktu 2 jam setelah makan malam.
pasien dianjurkan tidak merokok dan banyak bicara agar usus bersih dari udara.
pagi harinya pasien datang keradiologi untuk siap dilakukan pemeriksaan.

PERSIAPAN ALAT:
-X ray unit
-Spuit 20 cc
-wing needle 21
-nacl 20 cc
-antihistamin dexametason atau kalmetason.
-tornuquit
 -tensi 
-kapas alkohol
 -handscoon
 -media kontras 50 cc, disesuaikan berat badan pasien.

 PENYUNTIKAN BAHAN KONTRAS
YANG PERLU DITANYAKAN KEPADA PASIEN SEBELUM PENYUNTIKAN
  • Apakah alergi ?
  • Apa pernah mengalami demam, asma atau gatal-gatal?
  • Alergi thd obat-obatan ?
  • Alergi terhadap yodium?
  • Alergi terhadap beberapa jenis makanan
  • Apakah pernah dilakukan pem sinar-X dengan mendapat suntikan arteri/ vena?
REAKSI YG TIMBUL
  • Reaksi ringan dan sifatnya menimbulkan bahaya dan jarang digunakan obat anti histamin
  • Reaksi sedang diberikan pertolongan yg sederhana
  • Reaksi berat : jenis ini segera mendapatkan pertolongan baik pemeberian obat-obatan ataupun alat bantu lainnya ( pemunculan bisa segera/ belakangan ) jangan tinggalnya pasien sejak penyuntikan dan ditanyakan reaksi yg timbul
Reaksi ringan
a. Mual, muntah : dipersiapkan nierbeken (bengkok) dan juga handuk yg dibasahi kompres jika terasa mual, jangan diposiskan terlentang
b. gatal dan disertai bintik merah (hives)
c. rasa takut terhadap suntikan

Reaksi sedang
a. Timbul kemerahan yg telah melampaui batas ataupun muntah yg lebih : segera disuntikkan anti histamin utk menetralisis bahan kontras tsb

Reaksi Berat
a. Menurunnya tekana darah, berhentinya detak jantung dan juga pernapasan, kesadaran akan hilang, timbul kebiru-biruansusah bernapas, sesak penanggulanagan : harus tersedia trolly dan dilengkapai Peralatan utk pemulihan jantung ( cardiovascular resusciation equipment), oksigen portable, penyedot dan alat pengukur tekanan darah dan alat monitor .
obat anti histamin ( deladryl, kortison, kalmetason, dll)

PROSEDUR PENYUNTIKAN
  • Cuci tangan sampai bersih dan pakai sarung tangan
  • Pilih lengan yg disuntik dan pasang turniket
  • Raba daerah vena yang akan disuntik, kemudian bersihkan dengan kapas beralkohol
  • Dorong vena dengan telunjuk tanagn kiri, kemudian tusukkan jarum dengan kemiringan 20 – 45 dan jangan mendorong jarum terlalu dalamkrn bs menembus vena. Setelah jarum tepat pada posisinya dengan ditandai adanya arah masuk ke spuit maka turniket dilepas dan bahan kontras didorong perlahan-lahan. Stl BK habis disuntikkan maka tekan dgn menggunakan kapas alkohol pada bekas penyuntikan dan diplester , baru jarum dicabut

PROSEDURE PEMERIKSAAN :
Pasien ganti pakaian khusus pasien
pasien disuruh tidur terlentang
Pasien dilakukan foto polos
Kemudian dilakukan penyuntikan

setelah 5 menit waktu berjalan dilakukan foto, 15 menit, 30 menit, dan sampai 45/60 menit.
5 menit berfungsi untuk melihat fungsi calix ginjal
15 menit untuk melihat proximal sampai medial daripada ureter
30 menit untuk melihat ureter distal, / pelvic ureter junction, paosisi pasien yang terbaik pada menit ini adalah pasien prone.
45 jika pasien proses transportasi ginjal agak lambat, kemudian sampai medit ke 60 menit PM.

APA SAJA YANG AKAN DIALAMI OLEH PASIEN SELAMA PEMERIKSAAN:
pasien akan dilakukan penyuntikan pada vena cubiti/pergelangan lengan atas
Pasien terasa sedikit sakit pada saat dilakukan penyuntikan vena dan skin test
Pemeriksaan radiologi BNO IVP relatif nyaman “non invasif”
Jika terjadi reaksi alergi biasanya terjadi setelah 5 menit dari awal penyuntikan mediakontras.

Efek samping yang bisa timbul gatal, perut mual, bagian mata bengkak, kulit kemerah merahan.


MANFAAT:
“Pemeriksaan radiologi BNO – IVP” Adalah tindakan invasif minimal, bisa menyajikan informasi diagnostik secara rinci.

KETERBATASAN:
untuk melihat lebih rinci lagi bisa dilakukan MRI Dan ct scan. namun dirasa sudah cukup untuk menilai sebuah kelainan ginjal.

Resiko:
jika dilakukan eksposi yang berlebihan bisa menyebabkan kanker dalam jangka waktu lama, karena adanya efek non stokastik, maka dari itu setiap tindakan petugas harus melakukan azaz konsep ALARA.

TEKNIK RADIOGRAFI SINUSPARANASAL

Sinus Paranasal
Sinus Paranasal :
Kelompok anterior : sinus frontal, maksila, sel-sel anterior sinus ethmoid " muara dibawah konka media pada atau dekat infundibulum
Kelompok posterior : sel-sel posterior sinus ethmoid, sinus sfenoid " muara di berbagai tempat diatas konka media

image

Sinus maksilaris :
Merupakan sinus yang terbesar, bentuk piramid, dasar menghadap fosa nasalis, puncak kearah apeks prosesus zigomatikus os maksila

image

Sinus sphenoid
Terletak dalam korpus os ethmoid, dipisahkan oleh septum tulang yang tipis
image
Sinus frontal
Berhubungan dengan meatus medius melalui duktus nasofrontal
image
Sinus ethmoid
  • Terletak di kanan-kiri kavum nasi
  • Mempunyai bidang horisontal dan vertikal yang saling tegak lurus
  • Bidang horisontal :
                        ¨Superior : krista galli
                        ¨Inferior : lamina perpendikularis os ethmoid
                       ¨ Medial : lamina kribrosa
                       ¨Lateral : atap sel-sel ethmoid


TEKNIK RADIOGRAFI SINUSPARANASAL

PERSIAPAN :
A. ALAT : – Pesawat sinar-X
- Film dan kaset sesuai ukuran
- Soft bag
- Marker
- Grid/bucky
- dll.

B. PASIEN :
* Komunikasi dengan pasien
* Menghindarkan benda-benda yang mempengaruhi radiograf

PROYEKSI YANG DIGUNAKAN
Basic :
Lateral
¨PA (Waters Method)
¨PA (Caldwell Method)

Special :
- Submentovertex (SMV)
- PA Open-Mouth (Waters Method)
Patologi : sinusitis, osteomyelitis, sinus polyps

SPN LATERAL
  • ¨Posisi Pasien : Pasien tidur semi prone di atas meja pemeriksaan
  • ¨Posisi Obyek :
            ¨Kepala dirotasikan agar MSP kepala paralel dengan kaset/ meja pemeriksaan.
             ¨Atur interpopulari line (IPL) tegak lurus kaset/ meja pemeriksaan
             ¨Tempatkan 1 inchi inferior outer canthus pada pertengahan kaset
Arah sinar : tegak lurus kaset
Titik bidik : 1 inchi inferior outer canthus menuju tengah kaset (pertengahan antara outer canthus dan MAE.
FFD : 100 cm
Eksposi : tahan napas saat eksposi

image
Kriteria Radiograf :
Tampak sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus maksilaris saling overlap dengan sinus spenoidalis
Tampak os maksila, os nasal os vomer, concha nasal dan os ethmoid

Struktur :
Sinus frontal, sinus sphenoid, maksila antrum, sphenoid ridge
Proc. anterior clinoid, proc posterior clinoid, dorsum sellae
Petrous ridge, ramus mandibulla

SPN PA Waters
Posisi Pasien: pasien tidur telungkup pada meja pemeriksaan dengan kedua tangan di samping kepala sebagai fiksasi 
Posisi Obyek :
¨MSP kepala di atur di tengah kaset dan diatur tegak lurus meja pemeriksaan
¨Atur dagu menempel pada kaset atau kepala diekstensikan hingga OML membentuk sudut 40° terhadap kaset
CR : Vertikal tegak lurus kaset
CP: Masuk occipitale melalui sella tursika keluar lewat acantion menuju tengah kaset (pada MSP setinggi acantion ke tengah kaset)
FFD : 100 cm
Eksposi : Tahan napas selama eksposi

image
Kriteria Radiograf :
¨Tampak sinus ethmoid, frontal dan maksila.
¨Tampak os zygomatikum, septum nasi, cavum, os nasal, eonchal nasal.
¨Tampak os petrosum di bawah sinus maksila.
¨Tampak vomer palatum lakrimale.
¨Tampak os mandibula dan air cell mastoid.


image

SPN PA Caldwall Ethmold
Posisi Pasien : pasien tidur telungkup pada meja pemeriksaan dengan kedua tangan disamping kepala sebagai fiksasi.
Posisi Obyek :
¨MSP dari kepala diatur di tengah kaset dan diatur tegak lurus.
¨Dahi dan hidung menempel kaset atau kepala di fleksikan hingga OML tegak lurus dengan kaset .
CR : <10˚-15˚ caudad.
CP : Pada glabela.
FFD: 100 cm
Eksposi : Tahan napas selama eksposi.

image

Kriteria Radiograf :
¨Tampak sinus maksila, frontal dan ethmoidal.
¨Tampak os frontal, fossa orbital, fossa nasal, septum nasi.
¨Tampak konka nasal, os maksila, os mandibula, os zygomatikum.
¨Tampak os mastoid, os petrosum, sinus maksila, dan gigi geligi.

SPN SUBMENTOVERTEX (SMV)
¨Posisi Pasien : Berdiri / erect
¨Posisi Obyek :
Atur MSP tegak lurus kaset/grid
Angkat dagu, leher full ekstensi sampai IOML paralel terhadap kaset/grid
Istirahatkan kepala pada puncak tengkorak
CR : tegak lurus terhadap IOML
CP : pertengahan antara sudut mandibula (4-5 cm di bawah symphisis mandibula)
FFD : 100 cm
Eksposi : tahan napas selama eksposi

image

Kriteria Radiograf :
¨Tampak sinus sphenoid, ethmoid, maksila dan nasal fossae
 
image

 
PA OPEN-MOUTH (Waters Method)
¨Posisi Pasien : pasien berdiri/erect
¨Posisi Obyek :
Atur MSP tegak lurus menuju tengah kaset/grid
Leher ekstensi, tempatkan dagu dan hidung berlawanan dengan permukaan kaset/grid
Pastikan tidak ada rotasi kepala
Atur OML membentuk sudut 37o terhadap kaset
Instruksikan pada pasien untuk membuka mulut
Atur acantion di tengah kaset
CR : horisontal tegak lurus kaset
CP : masuk ocipetal keluar melelui acantion menuju ke tengah kaset
FFD : 100 cm
Eksposi : tahan napas selama eksposi

image
Kriteria Radiograf :
¨Tampak sinus frontal, maksilari dan sphenoid
¨Tampak nasal fossae, proc. alveolar dan petrous ridge

image